πŸ›οΈ

Sejarah Kota Homs: Emesa Kuno, Ibu Kota Khilafah

Homs

Diterbitkan: 2026-10-24 | Ziarah Suriah

Bagikan: WhatsApp Facebook Telegram X

Artikel Blog 1P3C: Sejarah Kota Homs

Berikut artikel lengkap dalam format HTML body content:

---

Kota Homs, yang pada masa kuno dikenal dengan nama Emesa, adalah salah satu kota paling bersejarah di Suriah. Terletak di tepi Sungai Orontes (Nahr al-Asi) yang mengalir membelah pedalaman Suriah, kota ini menyimpan jejak peradaban yang luar biasa β€” dari kuil dewa matahari Kekaisaran Romawi, menjadi benteng penaklukan Islam di bawah Amirul Mukminin Umar bin Khattab, hingga menampung makam sang pedang Allah, Khalid bin Walid. Mari kita telusuri keagungan sejarah Homs bersama-sama.

Emesa Kuno: Kota Cahaya Matahari di Suriah

Kota Homs pada masa kuno bernama Emesa terletak strategis di lembah Sungai Orontes, sekitar 160 kilometer utara Damaskus dan kira-kira 155 kilometer barat daya dari kota Palmyra yang terkenal. Letak geografis ini menjadikan Emesa sebagai persimpangan jalur perdagangan penting yang menghubungkan kota-kota pesisir Mediterania dengan pedalaman Suriah hingga ke Mesopotamia.

Sejarah hunian di kota ini dapat ditelusuri hingga ribuan tahun sebelum Masehi. Emesa menjadi bagian dari provinsi Suriah di bawah Kekaisaran Romawi sejak abad ke-1 SM, dan segera tumbuh menjadi salah satu kota paling berpengaruh di timur kekaisaran. Nama "Emesa" sendiri berasal dari kata Aram kuno, dan kota ini dikenal luas di seluruh Timur Tengah Romawi sebagai pusat kebudayaan dan keagamaan yang unik.

Kuil Elagabal: Pusat Penyembahan Dewa Matahari

Pada masa kejayaan Kekaisaran Romawi (abad ke-1 hingga ke-3 Masehi), Emesa dikenal luas sebagai pusat penyembahan dewa matahari yang disebut Elagabal β€” nama dewa lokal yang berasal dari bahasa Aram. Kuil megah yang dibangun di puncak bukit menjulang di atas kota menjadi tempat ziarah sangat terkenal, menarik peziarah dari berbagai penjuru kekaisaran.

Di dalam kuil disimpan batu suci berbentuk kerucut yang disebut Betaile, yang diyakini sebagai manifestasi kehadiran dewa Elagabal. Praktik penyembahan ini begitu kuatnya hingga akhirnya menembus batas-batas politik kekaisaran dan mempengaruhi takhta Romawi secara langsung β€” sebuah bukti nyata betapa besar pengaruh Emesa dalam peradaban kuno.

Peran Strategis Militer dan Perdagangan Romawi

Emesa juga berfungsi sebagai pos strategis Romawi di perbatasan timur Suriah. Kota ini menjadi bagian dari sistem pertahanan militer yang menjaga keamanan provinsi dari ancaman Kekaisaran Sassaniyah Persia di timur. Selain itu, Emesa menjadi titik kontrol perdagangan karet, rempah-rempah, tekstil, dan zaitun yang mengalir dari timur ke barat melalui Suriah.

Dinasti Emesa: Kaisar-Kaisar Romawi dari Kota Homs

Salah satu fakta paling menakjubkan tentang Emesa kuno adalah kelahiran sebuah dinasti yang memerintah Kekaisaran Romawi. Keluarga Julia dari Emesa, yang dipimpin oleh seorang wanita tangguh bernama Julia Maesa (sekitar 130–224 M), berhasil merebut takhta kekaisaran untuk dua cucu laki-lakinya β€” menjadikan kota Homs sebagai tempat kelahiran kaisar-kaisar Romawi.

Julia Maesa, wanita asal Emesa yang ambisius dan cerdas, mengatur pengangkatan cucunya Marcus Aurelius Antoninus (204–222 M) sebagai kaisar Romawi pada tahun 218 M. Kaisar muda ini kemudian dikenal dengan nama Elagabalus, mengambil nama dewa matahari Emesa sebagai gelar kekaisarannya. Elagabalus memerintah hingga tahun 222 M sebelum akhirnya tewas dalam sebuah kudeta palacium.

Setelah kematian Elagabalus, Julia Maesa kembali menggunakan pengaruh dan koneksi politiknya untuk mengangkat cucu lainnya, Marcus Aurelius Severus Alexander (208–235 M), yang dikenal sebagai Kaisar Alexander Severus. Alexander Severus memerintah hingga tahun 235 M sebelum dibunuh oleh prajuritnya sendiri. Dengan demikian, kota Homs pernah melahirkan dua kaisar Romawi β€” sebuah pencapaian langka yang tidak dimiliki oleh kebanyakan kota di luar Italia.

Fathul Islam: Homs Menegakkan Panji Khilafah

Pergantian halaman sejarah terbesar bagi kota Homs terjadi ketika pasukan Muslim di bawah komando Amirul Mukminin Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu menaklukkan Suriah. Ini merupakan bagian dari kampanye penaklukan besar-besaran yang dimulai sejak masa Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu dan diperluas secara signifikan di bawah kepemimpinan Umar radhiyallahu 'anhu.

Penaklukan Suriah di Bawah Amirul Mukminin Umar

Kota Homs menjadi saksi bisu salah satu momen paling menentukan dalam sejarah Islam: Pertempuran Yarmouk pada tahun 636 Masehi. Pertempuran epik antara pasukan Muslim pimpinan Khalid bin Walid dan tentara Bizantium Kaisar Heraclius ini berakhir dengan kemenangan gemilang pasukan Muslim, membuka jalan bagi penaklukan seluruh Suriah termasuk Emesa kuno yang kini bernama Homs.

Homs sendiri menyerah kepada pasukan Islam melalui perjanjian damai (sulh), di mana para penghuninya berjanji untuk membayar jizyah dan menerima perlindungan dari Khilafah Islam. Proses penaklukan Homs dilakukan secara damai, sesuai dengan prinsip Islam yang mengutamakan musyawarah dan negosiasi sebelum peperangan. Nabi kita ο·Ί telah bersabda:

"Berilah kemudahan dan janganlah kalian menyulitkan; dan berilah kabar gembira dan janganlah kalian memalingkan (orang dari kebaikan)."
β€” HR. Bukhari

Sistem Jund Homs: Distrik Militer Khilafah Umayyad

Setelah Suriah berada di bawah kekuasaan Dinasti Umayyad (661–750 M), Homs ditetapkan sebagai salah satu dari empat distrik militer utama (Jund) Khilafah Umayyad di Suriah. Keempat Jund tersebut adalah: Jund Dimashq (Damaskus), Jund Homs, Jund Qinnasrin (area sekitar Aleppo utara), dan Jund al-Urdunn (Palestina utara).

Sebagai sebuah Jund, kota Homs menjadi pusat pengaturan militer yang mengatur perekrutan, pelatihan, dan penempatan tentara. Kota ini juga menjadi pusat administrasi pemerintahan yang melayani wilayah sekitarnya β€” memperkuat peran Homs sebagai salah satu tulang punggung sistem pemerintahan Khilafah di Suriah.

Makam Khalid bin Walid: Simbol Keberanian Islam di Homs

Jika ada satu tempat yang paling identik dengan sejarah kota Homs di kalangan umat Islam, maka tempat itu adalah Makam Khalid bin Walid (Maqam Khalid bin Walid). Menara kembar berbentuk helm khas Mamluk yang menjulang tinggi di atas kompleks masjid ini menjadi ikon paling terkenal kota Homs β€” terlihat dari kejauhan dan langsung mengingatkan setiap pengunjung akan warisan perjuangan Islam yang abadi.

Kisah Khalid bin Walid: Pedang Allah yang Menaklukkan Suriah

Khalid bin Walid ibn al-Mughirah (sekitar 592–642 M) adalah sahabat Nabi ο·Ί yang dikenal sebagai salah satu komandan militer terhebat dalam sejarah Islam. Ia memimpin pasukan Muslim dalam serangkaian kemenangan luar biasa di Suriah, termasuk Pertempuran Ajnadayn (634 M), Pertempuran Yarmouk (636 M), serta berbagai operasi strategis lainnya yang mengamankan Suriah dari kekuatan Bizantium.

"Khalid bin Walid adalah dari diriku dan aku dari dirinya. Sesungguhnya Allah menurunkan dua pedang: Abu Ubaidah bin al-Jarrah dan Khalid bin Walid."
β€” HR. Ahmad dalam Musnad-nya

Nabi ο·Ί memberikan gelar kehormatan kepada beliau: "Sayfullah" β€” Pedang Allah. Meskipun terdapat perdebatan di kalangan ulama mengenai lokasi persis makam beliau, masyarakat Muslim secara turun-temurun menjadikan Homs sebagai pusat penghormatan terhadap jasa besar Khalid bin Walid dalam menegakkan Islam di Suriah.

Bangunan makam yang berdiri saat ini mengalami beberapa kali renovasi dan perombakan, terutama pada masa Kesultanan Ottoman (abad ke-19). Arsitektur menara kembarnya mengadopsi gaya Mamluk yang khas dengan bentuk helm bergerigi yang kini menjadi ciri khas kota Homs. Kompleks masjid-makam ini terus menjadi tempat ziarah yang ramai dikunjungi peziarah dari seluruh dunia Muslim.

Homs dalam Zaman Perang Salib dan Kekuasaan Mamluk

Pada abad ke-12, Homs menjadi saksi konflik besar antara peradaban Islam dan Eropa dalam Perang Salib. Kota ini berada di garis depan pertahanan Muslim melawan pasukan Salib yang menduduki kota-kota pesisir Suriah, dan memainkan peran vital sebagai penghubung antara Damaskus dengan wilayah utara.

Puncak kejayaan militer Homs di era Islam terjadi pada Pertempuran Homs Kedua pada 20 Oktober 1281 Masehi. Pasukan Kesultanan Mamluk di bawah Sultan Qalawun berhasil mengalahkan tentara Mongol Ilkhanate pimpinan Mongke TemΓΌr (cucu Hulagu Khan) yang mengancam akan menaklukkan seluruh Suriah. Kemenangan gemilang ini mengamankan Suriah dari ancaman Mongol dan memperkuat posisi Mamluk sebagai penguasa utama wilayah tersebut.

Peran strategis Homs tidak berubah bahkan setelah Kesultanan Ottoman mengambil alih kekuasaan pada tahun 1516–1517 Masehi. Kota ini tetap menjadi pusat provinsi (liwa) penting yang mengatur wilayah pedalaman Suriah tengah hingga runtuhnya kekaisaran Ottoman pada Perang Dunia I.

td>Republik Suriah

Tertarik Ziarah ke Suriah?

Hubungi kami untuk informasi paket ziarah, jadwal keberangkatan, dan konsultasi gratis.

πŸ“± Chat WhatsApp: 0821-1268-5085

ZIARAH IRAQ β€” Jejak Kejayaan Islam

Disusun oleh PT. Panorama Nur Mecca (PPIU U272) β€” Panorama Digital AI

Β© 2026 β€” Hak cipta dilindungi

Periode Sejarah Nama Kota Penguasa Peran Utama
Romawi (abad 1–3 M) Emesa Kekaisaran Romawi Pusat penyembahan dewa Elagabal, kota militer & perdagangan
Islam Awal (abad 7 M) Homs Khilafah Rasyidin Penaklukan damai, benteng penyebaran Islam
Umayyad (661–750 M) Homs Khilafah Umayyad Jund Homs β€” distrik militer & administrasi utama
Abbasid (750–1258 M) Homs Khilafah Abbasid Kota perdagangan & pertanian Suriah tengah
Mamluk (1250–1517 M) Homs Kesultanan Mamluk Kemenangan atas Mongol (1281 M), benteng strategis
Ottoman (1516–1918 M) Homs Kesultanan Ottoman Pusat provinsi (liwa), renovasi makam Khalid bin Walid
Modern (sekarang) Homs