🕌

Masjid Khalid bin Walid: Dua Kubah Perak di Tepian Orontes

Homs

Diterbitkan: 2026-10-24 | Ziarah Suriah

Bagikan: WhatsApp Facebook Telegram X

Masjid Khalid bin Walid di kota Homs, Suriah, adalah salah satu masjid bersejarah paling ikonik di dunia Islam yang dikenal luas dengan dua kubah perak megahnya yang menjulang gagah di tepian Sungai Orontes. Dari kejauhan, siluet dua kubah berwarna perak-abu ini menyerupai cawan raksasa yang menghadap ke langit Homs, menandakan keberadaan situs suci yang telah berdiri sejak berabad-abad lalu. Bagi umat Muslim, berkunjung ke Masjid Khalid bin Walid bukan sekadar menikmati arsitektur, melainkan menelusuri jejak sejarah heroik Khalid bin Walid — komanda legendaris yang dijuluki "Saifullah" (Pedang Allah) dan menjadi arsitek utama penaklukan Suriah pada era Khulafaurasyidin.

Dalam artikel ini, kita akan menelusuri sejarah panjang masjid, kisah hidup Khalid bin Walid, keunikan arsitektur dua kubah peraknya, serta panduan ziarah praktis untuk Anda yang merencanakan perjalanan spiritual ke Homs. Homs merupakan salah satu dari tiga kota ziarah utama di Suriah — bersama Damaskus dan Aleppo — yang menjadi destinasi wajib dalam rute ziarah Suriah lengkap Damaskus - Aleppo - Homs.

---

Sejarah Masjid Khalid bin Walid di Kota Homs Suriah

Masjid Khalid bin Walid dibangun untuk mengabadikan nama Khalid bin Walid, tokoh yang berperan menentukan dalam penaklukan Suriah oleh tentara Islam. Homs, kota terbesar ketiga di Suriah setelah Damaskus dan Aleppo, dipilih sebagai lokasi masjid karena kedekatan kota ini dengan berbagai peristiwa penting dalam sejarah penaklukan Muslim atas wilayah Syam. Sungai Orontes yang mengalir melintasi Homs menjadi lanskap alam yang melengkapi keindahan masjid, seolah menegaskan bahwa warisan sejarah Islam di kota ini mengalir tanpa henti seperti air sungai tersebut.

Asal-usul dan Arti Nama Masjid

Nama masjid diambil langsung dari nama Khalid bin Walid (wafat 642 M / 21 H), salah satu sahabat Nabi ﷺ dan komandan militer paling ditakuti dalam sejarah Islam. Ia lahir sekitar tahun 592 M di Mekkah, berasal dari klan Bani Umayyah dari kabilah Quraisy, dan awalnya menentang Islam sebelum mengucapkan syahadat pada tahun 628 M. Pemberian nama masjid ini menandakan betapa besarnya penghormatan terhadap kontribusi Khalid dalam membebaskan Suriah dari dominasi kekaisaran Romawi Byzantine pada abad ke-7 M. Masjid ini berfungsi tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai monumen kolektif yang mengingatkan generasi mendatang tentang kejayaan umat Islam di tanah Syam.

Masa Pembangunan dan Perkembangan Masjid

Struktur masjid yang berdiri saat ini terutama berasal dari masa Dinasti Mamluk, yang menguasai Suriah dari tahun 1250 hingga 1517 M. Pada periode ini, penguasa Mamluk membangun kembali dan memperluas berbagai masjid bersejarah di seluruh wilayah Suriah, termasuk Masjid Khalid bin Walid di Homs. Kubah-kubah khas Mamluk yang menjadi ciri khas masjid ini diduga dibangun atau direstorasi secara signifikan pada abad ke-13 M (abad ke-7 H). Selama berabad-abad, masjid ini mengalami beberapa kali perbaikan dan restorasi akibat gempa bumi — fenomena umum di wilayah Suriah — serta perubahan politik dari era Utsmaniyah hingga masa modern Suriah.

---

Khalid bin Walid: Saifullah yang Menaklukkan Suriah

Khalid bin Walid dikenal sebagai salah satu komandan militer terhebat sepanjang sejarah Islam. Dari segi catatan pertempuran, ia tidak pernah mengalami kekalahan dalam total 100-an pertempuran selama masa hidupnya, menjadikannya salah satu jenderal paling sukses yang pernah ada. Khalid memainkan peran sentral dalam penaklukan Suriah di bawah Khilafah Rasyidin, khususnya di masa kepemimpinan Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq yang menunjuknya sebagai panglima tertinggi pasukan Muslim di front Syam.

Peran Khalid dalam Penaklukan Suriah (636-638 M)

Puncak karier militer Khalid di Suriah terjadi pada Pertempuran Yarmouk pada tahun 636 M (15 H), yang merupakan salah satu pertempuran terpenting dalam sejarah peradaban. Pasukan Muslim di bawah komando Khalid mengalahkan kekuatan besar Bizantium dan merebut kendali atas Suriah secara permanen. Selanjutnya, Khalid memimpin penaklukan kota-kota penting seperti Homs, Damascus, dan area sekitarnya hingga akhirnya ia dipanggil mundur dari komando front Syam oleh Khalifah Umar bin Khattab pada tahun 638 M karena khawatir Khalid terlalu dimuliakan masyarakat. Khalid wafat pada tahun 642 M (21 H) di Bosra, Suriah, dan dimakamkan di sana. Sebagian besar sejarawan Islam sepakat bahwa Khalid adalah sosok yang tidak tergantikan dalam penaklukan Suriah, dan masjid di Homs menjadi bukti penghormatan abadi terhadap jasa-jasanya.

Khalifah Umar bin Khattab pernah berkata tentang Khalid bin Walid: "Jangan kalian memuji Khalid secara berlebihan, karena aku hanya melepaskannya dari keputusanku sendiri, bukan dari keputusan Rasulullah ﷺ." (Tarikh al-Tabari)

---

Dua Kubah Perak sebagai Identitas Masjid Khalid bin Walid

Hal yang paling menonjol dari Masjid Khalid bin Walid adalah dua kubah berwarna perak-abu-abu yang menjadi ciri khas visualnya. Dua kubah ini, yang berukuran sama dan berdiri berdampingan di atas ruang utama masjid, menjadikan siluet masjid ini mudah dikenali bahkan dari jarak jauh. Warna perak-abu kubah-kubah ini kontras dengan dinding masjid yang terbuat dari batu berwarna kecokelatan, menciptakan estetika arsitektur yang unik dan memikat. Dua kubah ini mewakili simbol kekuatan dan konsistensi — pasangan yang sejalan dengan kedekatan Khalid bin Walid dengan kekasih Allah, Nabi Muhammad ﷺ.

Arsitektur Khas Dinasti Mamluk

Arsitektur Masjid Khalid bin Walid mengikuti gaya Mamluk klasik yang banyak ditemukan di Suriah dan Mesir. Ciri khasnya meliputi kubah dengan profil persegi delapan (octagonal drum) sebagai penyangga, stucco berukir halus di sekitar jendela-jendela tinggi, dan pintu masuk dengan lengkungan kayu yang diukir indah. Masjid ini juga memiliki dua menara setinggi yang melengkapi komposisi simetris dua kubah. Pendekatan arsitektur ini menunjukkan bahwa para arsitek Mamluk sangat memperhatikan keseimbangan visual — baik secara horizontal maupun vertikal — yang menjadi filosofi dasar seni Islam.

---

Homs dalam Rute Ziarah Suriah: Destinasi Wajib

Kota Homs tidak bisa dilepaskan dari narasi ziarah Suriah karena dua alasan utama: keberadaan Masjid Khalid bin Walid dan kedekatannya dengan Situs Sejarah Kuno Palmyra serta Kota Bersejarah Bosra. Homs merupakan simpul penting dalam rute ziarah Damaskus → Aleppo → Homs yang menjadi jalur standar ziarah Suriah. Selain Masjid Khalid bin Walid, Homs juga memiliki situs-situs Islam lain yang menarik untuk dikunjungi. Berikut perbandingan utama tiga kota ziarah Suriah:

Kota Masjid / Situs Ikonik Tokoh Terkait Jarak dari Damaskus
Damaskus Masjid Umayyah (Masjid Agung Damaskus) Khalifah Muawiyah, Nabi Isa (Muslimin) —
Aleppo Masjid Besar Aleppo, Kubah Al-Husn Imam asy-Syafi'i (ditelantarkan dari Damaskus ke Arab Saudi) ~310 km
Homs Masjid Khalid bin Walid (dua kubah perak) Khalid bin Walid (Saifullah) ~155 km
Bosra Makam Khalid bin Walid, Amfiteater Romawi (UNESCO) Khalid bin Walid (tempat wafat) ~115 km
Palmyra Kota Kuno Palmyra (UNESCO) Warisan Romawi-Byzantine-Islam ~155 km

Karena letak geografisnya yang strategis, Homs sering dijadikan persinggahan terakhir sebelum berangkat ke Bosra — tempat makam Khalid bin Walid — atau ke Palmyra untuk melihat sisa-sisa peradaban kuno. Anda dapat menyusun rencana ziarah menyeluruh dengan mengunjungi tempat bersejarah utama di Damaskus terlebih dahulu, lalu bergerak ke Aleppo, dan barulah ke Homs.

---

Panduan Ziarah ke Masjid Khalid bin Walid

Ziarah ke Masjid Khalid bin Walid adalah pengalaman spiritual yang mendalam. Masjid ini bukan hanya sekadar bangunan bersejarah, tetapi juga ruang ibadah hidup yang tetap ramai dikunjungi jamaah setempat. Untuk memaksimalkan kunjungan Anda, berikut beberapa panduan praktis:

Informasi Praktis untuk Jamaah Ziarah

Saat berada di Homs, jangan lewatkan kesempatan untuk berziarah ke Makam Khalid bin Walid yang terletak di Bosra, hanya sekitar satu jam perjalanan dari Homs. Sementara itu, jika Anda masih memiliki waktu, kunjungan ke situs-situs bersejarah di Aleppo sebelum menuju ke Homs akan melengkapi pemahaman Anda tentang sejarah Islam di Suriah secara utuh.

---

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

1. Apakah Masjid Khalid bin Walid masih dibuka untuk umum saat ini?

Ya, Masjid Khalid bin Walid berfungsi sebagai masjid aktif yang digunakan untuk ibadah sholat lima waktu oleh warga Homs. Masjid ini juga terbuka bagi pengunjung dan wisatawan asing, meskipun kunjungan wisatawan lebih diwajibkan pada luar waktu sholat berjamaah. Sebaiknya selalu koordinasi dengan pemandu lokal untuk memastikan keadaan terkini mengingat kondisi politik dan keamanan Suriah yang dapat berubah.

2. Apakah Khalid bin Walid dimakamkan di masjid ini?

Tidak. Khalid bin Walid wafat pada tahun 642 M (21 H) di kota Bosra, Suriah, dan jasadnya dimakamkan di sana. Masjid Khalid bin Walid di Homs didedikasikan sebagai monumen penghormatan, bukan sebagai tempat pemakaman. Namun demikian, pengunjung yang ingin menziarahi makam beliau dapat mengunjungi Bosra yang berjarak sekitar 150 km dari Homs, di mana makam Khalid bin Walid terletak dekat dengan Amfiteater Romawi yang berstatus Warisan Dunia UNESCO.

3. Berapa lama waktu yang diperlukan untuk mengunjungi Masjid Khalid bin Walid?

Rata-rata jamaah menghabiskan 30-45 menit di masjid untuk menikmati arsitektur dua kubah perak, sholat, dan berdoa. Namun, jika Anda ingin mengambil waktu lebih lama untuk berzikir, membaca sejarah, atau mengambil foto arsitektur dari luar, alokasikan minimal 1 jam. Gabungkan dengan kunjungan ke situs-situs lain di Homs untuk itinerary harian yang lebih kaya.

---

Masjid Khalid bin Walid dengan dua kubah peraknya di tepian Orontes adalah bukti nyata bahwa sejarah Islam di Suriah terukir tak lekang oleh waktu. Setiap batu, setiap lengkungan kubah, dan setiap azan yang bergema di ruang utama masjid ini mengingatkan kita pada kisah heroik Saifullah dan generasi sahabat yang menaklukkan Suriah demi kejayaan dakwah. Masjid Khalid bin Walid di Homs adalah pengingat bahwa warisan Islam di tanah Syam tidak pernah mati — ia terus hidup dalam setiap hati yang ingin menyentuh sejarah langsung.

Rencanakan ziarah Anda ke Suriah bersama Panorama Nur Mecca — kami menyusun paket ziarah lengkap ke Damaskus, Aleppo, Homs, Bosra, dan Palmyra dengan pemandu sejarah berpengalaman dan akomodasi terpercaya. Klik tautan WhatsApp di bawah ini untuk konsultasi gratis:

📱 https://wa.me/6282112685085

Tertarik Ziarah ke Suriah?

Hubungi kami untuk informasi paket ziarah, jadwal keberangkatan, dan konsultasi gratis.

📱 Chat WhatsApp: 0821-1268-5085