πŸ›οΈ

Sejarah Kota Damaskus: Kota Tertua yang Masih Berpenghuni

Damaskus

Diterbitkan: 2026-10-24 | Ziarah Suriah

Bagikan: WhatsApp Facebook Telegram X

Para sejarawan dunia telah sepakat bahwa Sejarah Kota Damaskus dimulai sejak sekitar 10.000 SM, menjadikannya salah satu kota tertua di dunia yang masih berpenghuni hingga hari ini. Dari masa peradaban Aram, era Kekaisaran Romawi, hingga kejayaan Kekhalifahan Umayyah, Damaskus telah menyaksikan ribuan tahun pergolakan peradaban manusia. Kini, kota ini tetap menjadi jantung kehidupan di Suriah, sekaligus destinasi ziarah yang paling dirindukan oleh umat Muslim dari seluruh penjuru dunia. Mari kita telusuri jejak sejarahnya yang tak pernah pudar.

Kenapa Damaskus Disebut Kota Tertua yang Masih Berpenghuni?

Menurut EncyclopΓ¦dia Britannica dan data UNESCO, bukti arkeologis menunjukkan bahwa area di sekitar Damaskus telah dihuni manusia sejak 10.000–8.000 SM. Ini menjadikan Damaskus kandidat terkuat sebagai kota tertua yang terus dihuni secara berkelanjutan tanpa jeda, mengungguli kota-kota besar lain seperti Jericho, Aleppo, dan Beirut.

Salah satu catatan tertulis tertua tentang Damaskus berasal dari Arsip Amarna Mesir sekitar tahun 1350 SM, di mana kota ini disebut sebagai "Damesek". Lebih awal lagi, ekspedisi militer Firaun Tutmosis III sekitar tahun 1600 SM mencatat kampanye menuju wilayah Damaskus. Sistem saluran air Barada yang mengalirkan air dari Sungai Barada ke lembah mungkin telah ada sejak era Aram sebelum tahun 1200 SM β€” sebuah sistem irigasi luar biasa yang menjadi tulang punggung kehidupan kota ini selama milenium.

Setelah masa Aram, Damaskus mengalami perubahan kekuasaan berkali-kali: dikuasai Asyur, Persia Achaemenid, Alexander Agung pada 333 SM, dinasti Seleukid, Romawi Kuno, hingga Byzantium. Dari seluruh dinasti tersebut, semuanya memilih untuk membangun dan mengembangkan kota ini β€” bukan meninggalkannya β€” yang membuktikan bahwa letak geografis strategisnya memang tak tertandingi.

Sejarah Kota Damaskus dari Masa Romawi Hingga Dinasti Umayyah

Damaskus di Era Kekaisaran Romawi dan Byzantium

Selama masa Kekaisaran Romawi, Damaskus menjadi salah satu kota paling makmur di timur Laut Tengah. Trajanus (98–117 M) menyedot kekayaan wilayah Arabia Petraea yang dijajah pada 106 M, dan meskipun Bosra (sekitar 140 km selatan Damaskus) menjadi ibu kota provinsi, Damaskus tetap menjadi pusat ekonomi dan budaya wilayah Suriah. Pada masa Byzantium, kota ini mengalami transformasi arsitektur besar, termasuk pembangunan katedral Kristiani yang kelak menjadi lokasi Masjid Umayyah.

Saat Islam datang ke Suriah, penaklukan Muslim atas Damaskus terjadi pada tahun 634 M. Pasukan Muslim di bawah komando Khalid bin Walid berhasil menerobos pertahanan kota setelah dua kali percobaan pengepungan, dan pasukan Romawi di bawah komando Hermogenes akhirnya menyerah. Kemenangan ini didahului oleh Pertempuran Yarmouk pada tahun 636 M, pertempuran besar yang mengakhiri dominasi Romawi di Suriah dan menyebarkan Islam ke seluruh wilayah Levant.

Damaskus: Pusat Kekuasaan Kekhalifahan Umayyah

Momen paling emas dalam sejarah kota Damaskus dimulai ketika Muawiyah bin Abi Sufyan (ashhab yang juga seorang sahabat Nabi ο·Ί) mendirikan Dinasti Umayyah pada tahun 661 M dan menjadikan Damaskus sebagai ibu kota Kekhalifahan Umayyah yang membentang dari Andalusia (Spanyol) di barat hingga Transoksiana (Asia Tengah) di timur. Bayangkan: dari satu titik pusat di Damaskus, kekuasaan Islam pada puncaknya menjangkau lebih dari 13 juta kilometer persegi β€” luas yang tak pernah dicapai oleh kekaisaran mana pun sebelumnya.

Kekhalifahan Umayyah bertahan hingga tahun 750 M ketika Dinasti Abbasiyah merebut kekuasaan dan memindahkan ibu kota ke Baghdad. Namun, warisan Umayyah di Damaskus tetap hidup dan menjadi fondasi bagi identitas kota ini selama lebih dari 1.300 tahun berikutnya.

Masjid Umayyah Damaskus: Permata Arsitektur Islam

Sejarah Pembangunan dan Transformasi Sebuah Suci

Tidak berlebihan jika disebut bahwa Masjid Umayyah adalah landmark paling ikonik dalam sejarah kota Damaskus. Masjid ini dibangun oleh Khalifah al-Walid bin Abdul Malik Umayyah pada tahun 705–706 M atas perintahnya sendiri, dan selesai sekitar tahun 715 M. Lokasinya dahulu adalah situs bekas katedral St. John the Baptist Byzantium, yang juga merupakan bekas lokasi kuil Jupiter Romawi dan bahkan tempat ibadah bangsa Aram kuno β€” sebuah bangunan yang menempati situs suci dari minimal empat peradaban berbeda.

Massoudy, seorang sejarawan arsitektur Islam, mencatat bahwa Masjid Umayyah memiliki kolam air (shadirwan) yang terus mengalir, memantulkan dinding masjid yang dipenuhi mozaik emas dan batu onyx. Pada masa Dinasti Abbasiyah, Masjid ini sempat hancur akibat gempa bumi tahun 1069 M dan dibangun ulang oleh atabeg Burhaniyah. Kembali hancur karena kebakaran pada tahun 1339 M, lalu dibangun kembali oleh Sultan Barsbey Mamluk. Kisah ini menggambarkan betapa Damaskus selalu bangkit dari puing β€” semangat yang menjadi simbol peradaban Islam.

Saat ini, Masjid Umayyah masih berfungsi sebagai masjid agung utama Damaskus dan menjadi tujuan ziarah utama bagi peziarah Muslim dari seluruh dunia. Halaman masjid dipenuhi air mancur besar dan kebun jeruk (riwaq) yang dikelilingi kolom-kolom marmer Romawi asli β€” bukti lapangan bahwa Islam menghormati dan mengintegrasikan warisan peradaban sebelumnya.

Kota Damaskus dalam Sejarah Islam: Para Imam dan Ulama Besar

Peran Damaskus dalam sejarah Islam tidak selesai dengan masjidnya. Kota ini pernah menjadi rumah bagi berbagai ulama besar. Imam An-Nawawi (1233–1277 M), penulis kitab sahih terkenal Minhaj al-Talibin dan Riyadh al-Salihin, lahir di desa Nawa dekat Damaskus dan wafat di kota ini pada tahun 1277 M. Selama hidupnya, ia mengajar dan menulis karya-karya monumental di dalam tembok Damaskus.

Ibnu Katsir (1300–1373 M), penulis Al-Fitro wa' al-Milal dan Bidaya wa Nihaya, wafat di Damaskus pada tahun 1373 M setelah menghabiskan akhir hidupnya di kota ini. Sementara itu, Salahuddin al-Ayyubi, pahlawan yang merebut Yerusalem kembali dari Tentara Salib pada tahun 1187 M, wafat di Damaskus pada 4 November 1193 M β€” menutup hidupnya di kota yang sama yang menjadi jantung administrasi kerajaannya.

Keberadaan para ulama ini menjadikan Damaskus pusat pengkajian ilmu keislaman selama berabad-abad. Tradisi ilmiah tersebut tidak pernah padam, meskipun Suriah mengalami pergolakan politik yang hebat di era modern.

Rute Ziarah ke Suriah: Damaskus, Aleppo, Homs, Bosra, dan Palmyra

Bagi Anda yang berniat menelusuri jejak peradaban Islam di Suriah, rute ziarah utama meliputi lima kota berikut. Berikut perbandingannya:

td>Palmyrene Empire (I–III M), Roman
Kota Status UNESCO Penanda Utama Era/Dinasti Kunci Tokoh Terkait
Damaskus Ya (Daftar Warisan Dunia) Masjid Umayyah, Kota Lama, Benteng Damaskus Umayyah (661–750 M), Mamluk, Ottoman Salahuddin, Imam An-Nawawi, Ibnu Katsir
Aleppo Ya (Daftar Warisan Dunia) Menara Masjid Agung Aleppo, Benteng Aleppo Zengid, Ayyubid, Mamluk Ibnu Katsir (belum lahir β€” namun lama tinggal di sini sebelum pindah ke Damaskus), Sultan al-Zengi
Homs Tidak (dalam proses pemulihan) Keraton Khaled bin Walid, Masjid Khaled bin Walid Romawi, Umayyah, Ottoman Khalid bin Walid (wafat 642 M di Hims)
Bosra Ya (Daftar Warisan Dunia) Amfiteater Romawi, Situs Arkeologi Bosra Romawi (Arabia Petraea), Islam awal Nabi Ayyub (dalam tradisi lokal)
Palmyra Ya (sebelumnya β€” rusak berat) Kolom-kolom besar, Gerbang Baal, Kuil Bel Kenangan Zainab binti Tahmanis

Rute paling lazim adalah Damaskus β†’ Aleppo β†’ Homs, dengan kunjungan sampingan ke Bosra dan Palmyra. Damaskus menjadi titik awal dan akhir ziarah. Jika Anda ingin menyusun perjalanan yang mendalam, baca juga artikel Sejarah Masjid Umayyah Damaskus dan Keutamaan Ziarah Makam Ulama di situs ini.

Rasulullah ο·Ί bersabda: "Ziarahilah kuburan, karena ia (kuburan) mengingatkanmu kepada akhirat."
β€” HR. Muslim, Kitab al-Jana'iz, Hadits No. 1561

Hadits ini menjadi dasar utama mengapa ziarah makam ulama dan pejuang Islam di Suriah β€” seperti makam Salahuddin di Damaskus, makam Khalid bin Walid di Homs, dan makam Ibnu Katsir di sekitar Damaskus β€” menjadi tradisi keilmuan yang dijaga ribuan tahun. Ziarah bukan sekadar wisata, ia adalah upaya menghidupkan kembali ikatan dengan sejarah dan memperkuat iman melalui kesaksian material peradaban Islam.

Apa Saja Makam Ulama Besar yang Bisa Dikunjungi di Damaskus?

Di Kota Damaskus dan sekitarnya, peziarah dapat mengunjungi makam Imam An-Nawawi (di dekat Nawa, selatan Damaskus), makam Ibnu Katsir (kawasan Damaskus Timur), makam Sultan Salahuddin al-Ayyubi (di sisi timur Masjid Umayyah), serta makam Khalid bin Walid β€” meskipun yang terakhir ini berada di Homs, sekitar 140 km dari Damaskus. Makam-makam ini bukan sekadar bangunan; setiap situs menyimpan kisah pahlawan dan ulama yang membentuk keislaman Suriah.

Beberapa pengunjung juga tertarik menelusuri situs-situs prasejarah di kota ini, seperti Benteng Damaskus (dibangun oleh zaman Ayyubid dan Mamluk sekitar abad ke-13), Gerbang Rasyid (Gerbang Timur Damaskus dari era Romawi), dan Sistem Saluran Air Barada yang berusia 3.000+ tahun β€” warisan hidup yang masih mengaliri kebun-kebun Damaskus sampai sekarang.

Mengapa Damaskus Tetap Relevan sebagai Destinasi Ziarah Islam Hari Ini

Meskipun Suriah mengalami masa sulit akibat konflik sejak tahun 2011, Damaskus dan Aleppo terus menjaga inti kota lama mereka. Bangunan-bangunan bersejarah tetap berdiri β€” Masjid Umayyah masih berdiri megah, kota lama Aleppo masih mengungkapkan lapisan sejarah 10.000 tahun di setiap temboknya, dan tradisi ziarah belum pernah putus. Pemerintah Suriah dan UNESCO aktif bekerja sama untuk memulihkan situs-situs bersejarah yang terdampak konflik. Ini adalah jalan bagi peziarah masa kini untuk ikut berpartisipasi dalam melestarikan warisan umat.

Perjalanan ke Damaskus bukan sekadar liburan, melainkan mengundang Anda menyentuh langsung tempat-tempat yang disebut dalam Al-Quran dan hadits. Dari kota yang pernah menjadi pusat peradaban Islam terbesar di dunia, Anda bisa membawa pulang bukan hanya kenangan, tetapi juga hikmah sejarah yang mengubah cara memandang kehidupan.

---

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

1. Benarkah Damaskus adalah kota tertua di dunia yang masih berpenghuni?

Ya, menurut Britannica dan data UNESCO, bukti arkeologis menunjukkan area Damaskus dihuni sejak 10.000–8.000 SM, dan terus dihuni tanpa jeda hingga hari ini. Beberapa kota lain seperti Jericho juga mengklaim titik awal serupa, namun Damaskus unggul dalam bukti kontinuitas kepenghunian dari kota besar ke kota besar.

2. Apa makam dan situs ziarah utama di Damaskus dan Suriah?

Tiga kota ziarah utama adalah Damaskus, Aleppo, dan Homs. Di Damaskus terdapat Masjid Umayyah, makam Salahuddin, dan makam ulama besar. Di Homs terdapat makam Khalid bin Walid. Di sekitar Aleppp dan selatan Damaskus terdapat makam dan situs yang terkait dengan Ibnu Katsir dan Imam An-Nawawi. Kunjungan ke Bosra dan Palmyra melengkapi perjalanan sejarah.

3. Kapan waktu terbaik untuk berziarah ke Suriah?

Waktu terbaik adalah antara bulan Maret–Mei dan Oktober–November, saat cuaca di Damaskus dan kota-kota lain masih sejuk (20–28Β°C). Hindari Agustus yang panas kering, dan periksa kondisi terkini keamanan sebelum berangkat. Panorama Nur Mecca menyediakan pemandu lokal berpengalaman dan koordinasi penuh agar perjalanan Anda aman dan bermakna.

---

Rencanakan ziarah Anda ke Suriah bersama Panorama Nur Mecca β€” tim kami siap menyusun rute ziarah lengkap Damaskus β†’ Aleppo β†’ Homs (plus Bosra & Palmyra) dengan pemandu lokal, akomodasi nyaman, dan pengalaman spiritual yang tak terlupakan. Kirim pesan ke WhatsApp di sini untuk konsultasi gratis. πŸ•Œ

Tertarik Ziarah ke Suriah?

Hubungi kami untuk informasi paket ziarah, jadwal keberangkatan, dan konsultasi gratis.

πŸ“± Chat WhatsApp: 0821-1268-5085